Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Juli 2016

Berkunjung Ke Sekolah (Nan Jauh Disana)



SDN MULYA SEJATI 4 KELAS JAUH
Sebuah Perjalanan pada tahun 2013 silam tepatnya tanggal 28 September.
Mengunjungi Sebuah Sekolah Dasar yang terletak di penjuru Karawang, berada dekat perbatasan Karawang-Purwakarta dan bercengkrama dengan guru satu-satunya di Sekolah Dasar Tersebut.

Secara geografis, Sekolah ini berada di daerah perbukitan dan hutan yang masih belum ramai terjamah masyarakat luar. Karena aksesnya yang jauh, daerah ini pun belum tersentuh listrik.

Sebuah wajah Pendidikan di Kota Industri (yang konon) terbesar Se-Asia Tenggara ini, memiliki sekolah yang masih jauh dari sarana dan prasarana layaknya Lembaga Pendidikan umumnya.

Karena belum sempat menulis pada waktu itu dan ketika ingin menulisnya kembali, lupa entah harus darimana mulainya. Maka hanya dokumentasinya saja.
Dan menurut kabar Sekolah  Dasar tersebut sudah mulai membaik sekarang... Alhamdulillah


1 SD, 3 Ruang Kelas, 6 Kelas dan 1 Guru.
Sebuah Perjalanan yang mengungkap Sisi Lain Karawang..

Rute Jalan Menuju SD

Danau Jatiluhur dilihat dekat SD


Melintasi Jembatan

Jembatan Penghubung

Wajah Perbukitan Karawang



Seorang ibu tengah menimba air dan ember yang mengantre

Air dalam sumur yang sedang kering

HATI-HATI ; dalam perjalan banyak sekali persimpangan jalan. Jika salah ambil jalan, anda akan tersesat.

Ini kami saat salah jalan dan memutar balik.





KUTAJATI KARAWANG

Foto SD dari depan






Foto SD dari Belakang

Salah satu rumah warga ketika hendak pulang. Rumah yang beratapkan ateup




Ahmad Jamaludin

Senin, 18 April 2016

Lomba Foto Tentang Air

Pada akhir 2013 tepatnya bulan November silam. Saya coba ikutan lomba foto yang bertemakan air yang diadakan oleh Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI).

Lomba yang diumumkan via media sosial twitter ini, mengajak siapa saja yang ingin berpartisipasi untuk  bersama-sama menjaga dan merubah (sedikit demi sedikit) perubhan iklim yang tengah terjadi sekarang ini.

Memang perubahan iklim ini tak terasa dan terlihat, waktunya pun bukan waktu mingguan maupun bulanan namun tahunan bahkan ribuan tahun menurut tahun geologi. Namun lambat laun kita pun merasakan perubahan iklim tersebut, baik cuaca yang tak menentu hari-hari ini ataupun es dikutub yang kian hari kian mencair.

Terlepas dari itu, lomba foto ini bagi saya merupakan wahana untuk bertemu dan bertukar pikiran dengan para aktivis lingkungan, para pemerhati dan mereka yang menaruh perhatian lebih untuk lingkungan.

Betapa bahagianya ketika diumumkan via twitter foto yang saya kirim masuk nominasi 10 foto yang terbaik. Mungkin dari segi anggel kamera maupun teknik photograpi foto saya yahh bisa dibilang standarlah. Tapi dari segi isi cerita di foto mungkin bisa dibilang lumayan.



Foto Yang Di Lombakan

Foto saya ambil pagi-pagi ketika sedang iseng iseng turun ke Sungai Citarum yang sedang surut. Ketika turun saya lihat seorang Kakek yang sedang menjala ikan ditengah kotor dan hitamnya Sungai Citarum.






Entog (Bahasa Sunda) Sedang bermain dan minum di pinggir Citarum

Proses pembangunan jembatan dekat UNSIKA (2013)

Lanjut cerita, pengumuman pemenang di lakukan di Gd XI Epicentrum, Jakarta. Saya berangkat 3 orang, saya, Ana dan Aab. Sengaja saya ajak 2 orang ini karena saya tidak tahu jalan-jalan di Jakarta.. (Katro yah)..



Sempat nyasar nanya sana nanya sini, akhirnya nyampe juga. Gedung berdekatan dengan Kantor TV One di Jln.Rasuna Said. Ketika tiba, biasa foto-foto eksis dan lihat buku-buku bacaan yang bertemakan lingkungan hidup.



Acaranya pun beragam selain pengumuman foto, pameran buku lingkungan hidup juga nonton bareng Film Dokumenter "Setelah Hujan Datang". Dimana film ini menceritakan tentang susahnya air di Kepulauan Seribu, untuk air minum dan mandi mereka menunggu air hujan karena dengan hidup di pulau dan kelilingi air laut maka air tanahnya terasa asin air laut yang meresap dan tidak sehat untuk dijadikan air untuk mandi apalagi dikonsumsi.
Pemutarab Film Dokumenter "Setelah Hujan Datang" yang juga di lombakan di Eagle Award Film Dokumenter Metro TV


Walau tak juara, tak apa. Juara dan menang bukan itu tujuan, yang penting tambah ilmu, tambah pengalaman.




Salam Bumi



Ahmad Jamaludin

Sabtu, 21 Desember 2013



Sabtu siang itu, kami berkumpul dikosan prepare buat naik gunung sanggabuana yang berada di kabupaten karawang. Rencana pendakian ini sudah direncanakan dan dipersiapkan jauh-jauh hari sebagai suatu refreshing ketika sudah selesai mengadakan acara yang lumayan membuat mumet.
Letak Gunung Sanggabuana sendiri menjadi perbatasan dan bagian dari beberapa kabupaten antara lain kabupaten Bogor, Purwakarta, Cianjur dan Karawang. Jika dilihat dari arah karawang, gunung sanggabuana tidak terlihat karena diapit dan terhalang oleh beberapa bukit dan juga gunung.

Untuk arah masuk dari karawang bisa melalui tempat wisata curug cigeuntis. Namun, awal mula jalur untuk pendakian itu letaknya sebelum ke curug cigeuntis dan jalurnya pun terbilang sempit cukup untuk motor. Dan biasanya para pendaki yang akan mendaki gunung sanggabuana memulai pendakiannya dari perumahan warga yang dijadikan tempat penitipan motor karena rata-rata para pendaki untuk menuju loji sendiri kebanyakan membawa kendaraan roda dua.


Pendakian

Pendakian kami dimulai pukul sekitar setengah 5 sore karena kami sendiri berangkat dari karawang pukul 3 sorean. Kami berangkat 8 orang dan menggunakan 4 motor. Dengan semangat dan rasa penasaran tinggi kami memulai berjalan kaki dari penitipan motor di perumahan warga yang merupakan pos terakhir untuk sepeda motor karena kesananya dilanjutkan dengan berjalan kaki. Ini merupakan pendakian pertama kami, Sawah-sawah yang berhamparan dan suguhan pemandangan bukit-bukit yang terbentang menemani setiap langkah kaki yang kami lalui juga gemercik aliran sungai yang begitu jernih yang jarang kami lihat diperkotaan. 

Istirahat Sejenak
Subhanallah… itulah yang kami ucap ketika melihat lukisan-lukisan alam yang begitu indah dan luas yang menyadarkan kita sebagai manusia hanya bagian kecil dari alam yang begitu luas bahkan pikiran kita pun tidak mampu menterjemahkan apa-apa saja yang ada di setiap sudut alam jagad ini.
Tidak cuma sampai itu, sekitar 1-2 KM jalur awal pendakian yang kami lalui merupakan sebuah desa dimana para penduduk desa yang mayoritas menggantungkan hidupnya bertani dan berkebun melakukan aktivitasnya masih secara tradisional. Hal contoh, seorang petani yang sedang membajak menggunakan sapi sawah sambil bernyanyi lagu-lagu sunda dimana katanya lagu-lagu itu biasanya dinyanyikan sebagai penyemangat saat membajak dan doa harapan agar sawah yang sedang digarap dapat menghasilkan panen yang melimpah.
Langkah demi langkah kami tapaki dan tak terasa keringat mengucur deras sehingga membasahi pakaian yang dikenakan. Jalan yang menanjak cukup merepotkan dan membuat lelah di awal-awal kami, tak khayal setiap 200-400 M kami istirahat karena beberapa anggota sudah sangat capek.
Langit sore hari mewarnai perjalanan kami dengan layung senjanya. Warna langit pun terlihat terang kekuningan seakan menerangi langkah kami dari malam yang akan tiba dan menggelapkan jalur-jalur yang akan kami lalui.

Selanjutnya, di sebuah gubuk yang kami temui saat diperjalan menjadi tempat istirahat untuk mempersiapkan peralatan dimalam hari seperti senter dan lainya, karena langit dan jalur-jalur yang kami lalui mulai gelap menjelang malam. 
Kemudian perjalan kami lanjutkan, tak jauh dari tempat istirahat yang tadi kami melihat sebuah rumah warga dengan obor kecil karena listrik belum ada disini. Gonggongan anjing menyambut kami di kejauhan, tak khayal membuat beberapa anggota panik karena takut anjing. Dengan sedikit dorongan dan ketakutan dari beberapa anggota kami memberanikan diri melewati anjing yang ada dirumah warga tersebut.
Setelah beberapa meter melewati rumah warga, tiba-tiba datang seekor kucing yang berasal dari arah rumah warga mengikuti dan menemani selama dalam perjalan. Ketika kami istirahat di tengah perjalanan, kucing itu pun ikut berhenti dan bermain-main disekitar kami.

Pos Pertama, Sebuah Petilasan

Sekitar pukul 7 malam, kami melewati sebuah petilasan yang dimana petilasan tersebut terdapat rumah juga warung,  dan kami pun memutuskan untuk istirahat dan mengisi ulang persediaan logistik yang hampir habis.
Kopi dan susu jahe menemani istirahat kami di warung ini, karena perjalan yang cukup melelahkan dan udara yang mulai cukup dingin ditambah persediaan rokok yang masih ada. Saat kami baru tiba pun sudah banyak orang yang datang berziarah atau pun hanya sekedar lewat menuju puncak sanggabuana. Pada malam hari pun, ada beberapa kelompok yang lewat untuk mendaki  pada malam hari. 



Bersambung...

Sabtu, 12 Januari 2013

Mengunjungi Makam Adipati Singaperbangsa

Adipati Singaperangsa Karawang
Adipati Singaperbangsa adalah pendiri dan Bupati pertama Kabupaten Karawang. Beliau di tugaskan oleh Mataram untuk berjaga dari serangan Belanda yang ditempatkan di Karawang.


Pada hari Minggu menjelang akhir Tahun 2012 tepatnya tanggal 30 Desember 2012 saya beserta Tim Ekspedisi Kuning "Komunitas Pecinta Situs Sejarah Karawan" berkunjung ke Makam Adipati Singaperbangsa Karawang untuk berziarah dan menelusuri sejarah- sejarah yang ada disana.

Seperti kata Presiden pertama Indonesia Soekarno 'JAS MERAH'Jangan sekali-kali melupakan sejarah”. Dari sejarah kita belajar dari masa lalu, dari sejarah kita tahu nilai-nilai luhur yang terkandung, dari sejarah kita tahu bagaimana harus bersikap untuk masa depan.

Makam Adipati Karawang bertempat di Desa Munggul Jaya Kecamatan Cilamaya. Untuk mencapai ke sini ada dua jalur bisa ditempuh. Dari Karawang Kota bisa menempuh Karawang-Telagasari-Wadas-Tempuran-Cilamaya atau dari arah Cikampek dapt mengambil jalan Cikampek-Jatisari-Cikalong-Krasak-Cilamaya.

Suasana disekitar daerah sekitar Makam seperti daerah Laut, angin sepoy sepoy, hamparan sawah yang terbentang seperti hamparan laut ditambah dengan pohon-pohon tinggi dan tanah seperti pasir laut. Entah ini suatu keistimewaan disini atau perasaan yang saya rasakan saja, kalau penasaran silahkan lihat dan datang saja kesini.

Ketika sampai di makam, saya juga yang lain akan ditemani Kuncen makam yang bertugas menjaga dan merawat Makam. Kuncen disini adalah keturunan dari Adipati Singaperbangsa sendiri dan sudah turun temurun dari dulu.

Banyak pelajaran hidup yang saya dapatkan dari sini, bagaimana rasa cinta tanah air itu selalu dijunjung  juga menghormati jasa-jasa pendahulu yang telah menjaga Kabupaten Karawang.

Berikut dokumentasi yang telah diabadikan….








Foto Bersama Penjaga Panembahan Adipati Singaperbangsa


Ahmad Jamaludin
12-Januari-2013