Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Juni 2013

Air Mengalir Sampai Jauh



Air mengalir sampai jauh,
Akhirnya ke laut…
Lirik lagu Bengawan Solo karya Gesang tersebut sepertinya tepat untuk menggambarkan siklus air sekarang ini. Beberapa tahun terakhir banyak air larian, yang mengalir begitu saja sampai jauh, sampai laut. Lalu mereka menguap lagi (dengan cepat) menjadi awan, lalu hujan. Lalu mengalir lagi sampai jauh.

Air yang mencapai dua per tiga bagian permukaan bumi jumlahnya tidak pernah berubah, hanya bentuknya berubah dalam siklus hidrologi yang terus-menerus, yakni air di daratan-air laut-uap air-air hujan).  Tetapi perlu diperhatikan dari seluruh air yang terdapat di muka bumi, 97,5% diantaranya merupakan air asin yang terdapat di laut. Dan hanya 2,5% saja yang berupa air tawar.

Dari jumlah 2,5 persen air tawar (freshwater) yang dimiliki bumi pun hanya sebanyak 0,4 persen yang terdapat di permukaan tanah (surface) dan atmosfir (atmospheric water). 0,4 persen air tawar inilah yang sering diperebutkan dan dikonsumsi oleh milyaran penduduk bumi. Selebihnya berupa glasier (gletser; bongkahan es) yakni sebesar 68,7%, ada pula yang tersimpan di dalam tanah dalam bentuk airtanah (groundwater) sebesar 30,1 % dan sebanyak 0,8% tersimpan dalam bentuk tanah beku (permafrost).
Laju pertambahan penduduk yang semakin cepat tentu berpengaruh pula pada meningkatnya kebutuhan akan air bersih. Padahal ketersediaan air di muka bumi ini sangat terbatas menurut ruang dan waktu, baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Penggunaan air tanah merupakan salah satu alternatif yang dilakukan manusia guna memenuhi kebutuhan akan air, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun kebutuhan industri. Masalah yang kemudian muncul adalah penyedotan air tanah secara besar-besaran dapat mempengaruhi kualitas lingkungan, dalam hal ini air dan permukaan tanah.

Percepatan laju pembangunan yang tidak memperhatikan kondisi lingkungan berakibat semakin besarnya air larian yang akhirnya mempengaruhi  jumlah air tanah. Berkurangnya tanah sebagai daerah resapan air serta pohon-pohon yang menahan air mendukung semakin besarnya volume air larian. Air tersebut menggenang di permukaan dalam jumlah yang berlebihan, yang kita sebut banjir.

Kecilnya komposisi air tawar yang bisa kita konsumsi, serta daya renewable(perbaharuan) air yang sangat lama (Kecepatan renewable air adalah sepuluh pangkat minus dua cm per detik. Dengan kecepatan itu dibutuhkan waktu hingga beberapa generasi bagi air untuk memperbaharui dirinya), maka sudah saatnya kita menjadi bijak dalam menggunakan air. Langkah-langkah seperti membuat sumur resapan atau menabung air hujan dapat dijadikan alternative dalam menjaga ketersediaan air bersih demi kehidupan kita dan generasi penerus kita kelak.

Selamat Hari Air.

'MATI' Belum Tentu Mati

MSN News, Wed, 23 Mar 2011 04:15:58 GMT

Mitos: Mematikan berbagai peralatan listrik yang tidak digunakan dapat menjaga lingkungan
Fakta: Hal ini tidak sepenuhnya benar. Hal ini relevan untuk dilakukan ketika Earth Hour. Tapi faktanya, ada beberapa peralatan listrik yang tetap menyerap tenaga listrik walaupun sudah dimatikan. Walaupun peralatan listrik sudah dimatikan, lebih baik kita juga mencabut kabelnya dari colokan listrik sehingga peralatan tersebut benar-benar mati.

Sumber: http://news.id.msn.com/photogallery.aspx?cp-documentid=4736644&page=1

Mau dibawa Kemana Sampah Kita ?


Masih banyak orang berpikir bahwa “membuang sampah pada tempatnya” adalah solusi untuk masalah persampahan, padahal kalimat itu sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi saat ini. Sekedar  membuang sampah pada tempatnya hanyalah memindahkan lokasi penumpukan sampah dari ruang yang kecil (skala rumah tangga) ke ruang yang lebih besar, dalam hal ini TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Metode tersebut sama sekali tidak mengurangi timbulan sampah yang ada.

Tahun 2005 merupakan catatan terburuk dalam pengelolaan persampahan di Bandung dengan meledaknya TPA Leuwigajah. Tetapi perlu diperhatikan bahwa tragedi tersebut tidak terjadi begitu saja dalam waktu yang singkat, melainkan akibat dari pengelolaan persampahan yang tidak tepat selama bertahun-tahun. Tentu saja ini bukan hanya tanggung jawab Pemerintah atau Dinas Kebersihan, tetapi tanggung jawab setiap individu yang berpotensi menyumbang timbulan sampah.
 
Saat beraktivitas setiap hari selalu ada sampah yang dihasilkan, baik kecil maupun besar. Seringkali kita tidak memikirkan perjalanan selanjutnya sampah tersebut; akan kemana dan jadi apa sampah yang kita buang. Kita hanya selesai pada tahap “terbebas dari sampah” padahal sampah itu kemudian menjadi masalah bagi orang lain. Sampah yang kita buang ke tempat sampah akan berkumpul dengan sampah-sampah yang juga dibuang oleh orang lain, lalu berakhir di TPA dan bertambah setiap saat. Jika begitu, siap-siap menghadapi lagi tragedi Leuwigajah.

Penanganan sampah sebaiknya dilakukan dari sumbernya, yaitu skala rumah tangga. Jika kita bisa meminimalisir keluarnya sampah dari rumah, tentu akan sangat mempengaruhi timbulan sampah yang ada di TPA. Cara yang paling efektif untuk mewujudkan itu adalah kurangi volume sampah (reduce). Bagaimana caranya? Mudah saja. Berikut ini beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan:
  • Biasakan membeli sesuatu yang tidak menghasilkan terlalu banyak sampah, terutama sampah plastik. Ini bisa disisasati dengan membeli dalam jumlah banyak sekaligus.
  • Mulailah memilah sampah sesuai jenisnya. Sampah organik bisa dijadikan kompos dengan metode yang sederhana. Ini bisa mengurangi hampir 60% sampah di rumah kita.
  • Biasakan juga memanfaatkan barang-barang yang masih bisa digunakan (reuse). Misalnya botol-botol atau kaleng yang masih layak pakai dapat dimodifikasi dan dihias menjadi vas bunga.
  • Gunakan kertas bolak-balik. Selain mengurangi timbulan sampah, menghemat penggunaan kertas juga berarti mengurangi percepatan kerusakan hutan karena sebagian besar kertas yang diproduksi masih berbahan baku kayu.
  • Jika memungkinkan, kita pun bisa mencoba mendaur ulang (recycle). Sampah kertas paling umum didaur ulang karena dapat dilakukan dengan cara yang sederhana. Jika kita tidak bisa mendaur ulang sendiri, kita cukup mengumpulkan dan menjualnya kepada pengumpul barang bekas. Dengan begitu, sampah kita tidak akan menumpuk di TPS atau TPA tetapi bernilai guna.
Catatan penting dalam menangani permasalahan sampah adalah mulailah menjadi bijak. Semoga dengan begitu lingkungan kita menjadi tempat yang selalu nyaman untuk dihuni.

Jumat, 10 Mei 2013

Haruskah Reformasi Pendidikan ?

Banyak kisruh tentang pendidikan dewasa kini, dari mulai UN yang masih kontroversi dengan ada atau tidaknya, kurikulum yang masih labil sampai mental pelajar yang menyimpang yang harusnya menjadi seorang terdidik sesuai khitah dunia pendidikan yaitu mencerdaskan anak bangsa.
Pendidikan adalah salah satu pondasi bernegara dimana disinilah akan lahir generasi penerus yang akan membawa dan memimpin bangsa dan negara kedepan untuk lebih maju. Maka dari sinilah perlu perhatian lebih khusus agar tercapainya cita-cita berbangsa dan  bernegara.
Mari tengok dunia pendidikan dewasa kini, banyak hiruk pikuk yang mewarnai pendidikan yang menyimpang dari mana mestinya terutama adalah mental atau karakter peserta didik. Seperti Trilogi Pembangunan yang di gagas Soekarno ; Berdaulat dalam berpolitik, Berdikari dalam berekonomi dan Berkarakter dalam berbangsa.
Mental yang dikemas di Dunia pendidikan dewasa kini adalah mental buruh. Dimana setiap mental peserta didik secara langsung maupun tak langsung bertujuan untuk BEKERJA bukan untuk BELAJAR.
Kita bisa lihat, banyak sekolah maupun sekolah tinggi yang mengiming-imingi calon peserta didiknya dengan akan dimudahkan atau disalurkannya mereka untuk bekerja di berbagai perusahaan ketika lulus nanti. Padahal jumlah lowongan kerja yang ada tak sebanding dengan jumlah angkatan kerja yang semakin tahun semakin bertambah. Seperti Teori Pertumbuhan Penduduk Robert Malthus, dimana pertumbuhan penduduk digambarkan seperti "deret ukur" yaitu 1,2,4,8,16,32 dan seterusnya. Sedangkan pertumbuhan ekonomi digambarkan dengan "Deret hitung" yaitu 2,3,4,5,6,7,8,9 dan seterusnya.
Penciptaan Mental seperti inilah yang akan banyak menciptakan banyak pengangguran, generasi yang frustasi,  karena ketika mereka lulus sekolah nanti mereka hanya berharapa akan mendapatkan pekerjaan bukan untuk "meciptakan".
Hal inilah perlu adanya sebuah reformasi pendidikan dan membawa dunia pendidikan kembali ke-khitah untuk mencerdaskan segenap anak bangsa dan menciptakan generasi penerus yang "Berdaulat, Berdikari dan Berkarakter".
Dan inilah tugas "Kita", saya, anda dan semua yang cinta akan Negara ini.







Ahmad Jamaludin
12:56, 10 Mei 2013

Senin, 04 Maret 2013

Belajar Aksara Sunda

Aksara (=huruf) Sunda ini bukan Aksara Sunda Kuno, tetapi Aksara Sunda yang dipakai sekarang oleh masyarakat, walaupun sedikit..
aksara Sunda di atas adalah aksara Sunda pokok, yang setiap hurufnya mewakili satu konsonan. Di bawah ini huruf-huruf vokalnya.
Oke, sudah ada huruf konsonan dan vokal, lalu apa? Tentu saja tidak cukup, pada aksara Sunda ada juga yang dinamakan rarangkén, yaitu suatu rangkaian yang bisa dibubuhkan pada huruf-huruf konsonan di atas agar lebih bemakna. Ini bentuk-bentuk rarangkén-nya, beserta penjelasannya (saya sajikan dalam bentuk gambar, agar tidak merepotkan harus install ini-itu, maaf jika membuat lama ).




Nah. Sekarang, bagaimana cara memakainya?
Oke, kita coba dengan satu kalimat:
“Budi bermain bola, Ani memasak sayur.”
Kita coba ubah kalimat di atas dengan aksara Sunda dengan pendekatan langkah per langkah.
Langkah #1: kita identifikasi huruf-huruf konsonan dan vokal yang dibutuhkan (huruf sisipan -r-,-y-, dan -l- serta huruf akhiran -r, -ng, dan -h tidak dihitung)
“BuDi BerMaIN BoLa, ANi MeMaSaK SaYur.”
Bukan tulisan alay , huruf-huruf yang kapital adalah huruf-huruf yang dibutuhkan.
Langkah #2: ubah huruf-huruf tersebut menjadi huruf beraksara Sunda, seperti ini:


bada bamaina bala, ana mamasaka saya
Dan kalimat tersebut masih kalimat aneh
Langkah #3: masukkan rarangkén pengubah huruf vokal pada hasil yang didapat pada langkah #2, sehingga kalimat menjadi seperti ini:


budi bemaina bola, ani memasaka sayu
masih belum lengkap, tapi sudah hampir jadi..

Langkah #4: masukkan rarangkén penambah yang lain untuk melengkapi kalimat tersebut, sehingga menjadi:


budi bermain bola, ani memasak sayur
Selamat, anda telah membuat kalimat beraksara sunda!!
Sekarang untuk sedikit kuis, silahkan terjemahkan kalimat ini ke dalam bahasa Indonesia (ini dalam bahasa Sunda, tentu saja ) :




diambil dari pengantar kamus bahasa Sunda-Sunda
yang bisa menjawab dengan benar, akan mendapat senyuman manis dari saya
yu ah,,




Sumber
Uman Zone Wordpress

Kebudayaan dan Watak Sunda


Indonesia memiliki kebudayaan yang sangat banyak dan indah. Budaya yang lahir dari kebiasaan dan adat setempat. Masyrakat Indonesia merupakan suatu masyarakat majemuk yang memiliki keanekaragaman di dalam berbagai aspek kehidupan. Bukti nyata kemajemukan didalam masyarakat kita terlihat dalam beragamannya kebudayaan merupakan hasil cipta, rasa, karsa, manusia yang menjadi sumber kekayaan bagi Bangsa Indonesia.

Seperti bagi Kebudayaan Sunda, kebudayaan Sunda termasuk kebudayaan tertua. Kebudayaan Sunda yang ideal kemudian sering dikaitkan sebagai kebudayaan Raja-raja Sunda. Ada beberapa watak dalam budaya Sunda tentang satu jalan menuju keutamaan hidup. Etos dan watak Sunda itu adalah Cageur, Bageur, Singer dan Pinter. Kebudayaan Sunda juga merupakan salah satu kebudayaan yang menjadi sumber kekayaan bagi Bangsa Indonesia yang dalam perkembanganya perlu dilestarikan. Hampir semua masyarakat Sunda beragama Islam namun ada yang bukan beragama Islam, walaupun berbeda namun pada dasarnya seluruh kehidupan ditunjukan untuk alam semesta.

Kebudayaan Sunda memiliki ciri khas tertentu yang membedakannya dari kebudayaan-kebudayaan lain. Secara umum masyarakat Jawa Barat atau Tatar Sunda, sering dikenal dengan masyarakat religius. Kecenderungan ini tampak sebagaimana dalam Pameo" Silih asih, silih asah dan silih asuh, saling mengasihi, saling mempertajam diri dan saling melindungi. Selain itu Sunda juga memiliki sejumlah budaya lain yang khas seperti kespoanan, rendah hati terhadap sesama, kepada yang lebih tua dan menyayangi kepada yanh lebih kecil. Pada Budaya Sunda keseimbangan magis dipertahankan dengan cara upacara-upacara adat sedangkan keseimbngan sosial masyarakat Sunda melakukan gotong royong untuk mempertahankannya.

Sunda merupakn masyarakat yang tinggal di wilayah barat Pulau Jawa namun dengan berjalannya waktu telah tersebar ke penjuru dunia. sebagai suatu suku, bangsa Sunda merupakan cikal bakal berdirinya peradaban di Nusantara, di mulai dengan berdirinya kerajaan Sunda di Indonesia yakni Kerajaan Salakanagara dan Kerajaan Tarumanagara. Bahkan menurut Stephen openheimer dalam bentuk bukunya berjudul SundaLand, Tatar Sunda/ Paparan Sunda (Sundaland) merupakan pusat peradaban di Dunia. Sejak dari awal hingga kini, budaya Sunda terbentuk sebagai satu budaya luhur di Indonesia. Namun, modernisai dan masuknya budaya luar lambat laun mengikis keluhuran budaya Sunda, yang membentuk etos dan watak Sunda.


Sumber
Harian Umum Radar Karawang
Selasa 5 Februari 2013

Sejarah Singkat Suku Sunda


Suku sunda adalah kelompok etnis yang berasal dari bagian barat pulau jawa, Indonesia, yang merupakan wilayah administratif Jawa Barat, Banten, Jakarta dan Lampung. Suku sunda merupakan etnis kedua terbesar di Indonesia. Sekurang-kurangnya 15,41 % penduduk orang Indonesia merupakan orang Sunda. Mayoritas orang sunda beragama Islam, akan tetapi ada juga sebagian kecil yang beragama kristen, Hindu dan Sunda Wiwitan/Jati Sunda. Agama Sunda Wiwitan masih bertahan di beberapa komunitas pedesaan suku Sunda, seperti di Kuningan dan masyarakat Baduy di Lebak Banten yang berkerabat dekat dan dapat dikategorikan sebagai Suku Sunda.

 Jati diri yang mempersatukan orang Sunda adalah bahasanya dan budayanya. orang sunda dikenal memiliki sifat optimis, ramah, sopan dan riang. orang portugis mencatat dalam suma oriental bahwa orang sunda bersifat jujur dan pemberani. karakter orang sunda yang periang dan suka bercanda seringkali ditampilkan melalui tokoh populer dalam cerita sunda yaitu KABAYAN dan populer dalam wayang golek yaitu Cepot, anaknya Semar. mereka bersifat riang, suka bercanda, dan banyak akal. tetapi sering kali nakal.

Disamping prestasi dalam bidang politik (khususnya pada awal kemerdekaan Indonesia) dan ekonomi, prestasi yang cukup membanggakan adalah pada bidang budaya yaitu banyaknya penyanyi, musisi, aktor dan artis dari etnis sunda, yang memiliki prestasi ditingkat nasional, maupun menurut Rouffaer (1905:16) menyatakan bahwa kata Sunda berasal dari akar kata Sund atau kata Sunddha dalam bahasa Sansakerta yang mempunyai pengertian bersinar, terang, putih (Williams, 1872:1128, Eringga, 1949:289). Dalam bahasa Jawa Kuno (Kawi) dan bahasa Bali pun terdapat kata Sunda, dengan pengertian: bersih, suci, murni, tak tercela/bernoda, air, tumpukan, pangkat, waspada (Anandakusuma, 1986: 185-186: Mardiwarsito, 1990: 569-570; Winter 1928: 219). Orang Sunda meyakini bahwa etos atau karakter keSundaan, sebagai menuju keutamaan hidup. Karakter Sunda yang dimaksud adalah Cageur (Sehat), Bageur (Baik), Bener (Benar), Singer (mawas diri), dan pinter (cerdas). Karakter ini telah dijalankan oleh masyarakat yang bermukim di Jawa bagian Barat sejak jaman Kerajaan-kerajaan Salakanagara, Kerajaan Tarumanagara, Kerajaan Sunda Galuh, Kerajaan Padjajaran, hingga sekarang.



Sumber
Harian Umum Radar Karawang
Selasa 19 Februari 2013

Selasa, 12 Februari 2013

Kongres Nasional IPNU Palembang

PC IPNU Karawang

Persiapan Berangkat Ke Palembang, semua perwakilan Se-Jawa Barat kumpul di Gedung Dakwah PCNU Jawa Barat di Bandung.








Suasana saat menyebrangi Selat Sunda








Suasana dalam area Kongres


























Refreshing Ke JEMBATAN AMPERA


































Museum Sejarah Palembang













Pulang