Rabu, 01 November 2017

Teruntuk Kamu

Anyer Beach

Kamu tahu seberapa dulu ego ini begitu keras ?
Entah tak ingin ribet atau apa
Tapi saat kenal dan semakin dekat dengan kamu, seakan semua itu luluh

Kamu tahu seberapa dulu gengsi ini begitu ku junjung ?
Entah tak ingin kehilangan harga diri atau apa
Namun semenjak bareng kamu, rasa itu seakan ku tanggalkan

Saling mencintai dibalik awan karena tak ingin terlihat sang penghuni bumi
Saling mengerti posisi, saya sadar saya dimana dan kamu memperlakukanku seakan tak ada senggan, adil

Menunggu ada batasnya
Namun kali ini saya tak ingin batas, batas waktu yang fana dan saya tak peduli itu
Yang saya ingin batas dimana hatimu benar-benar memilih hati

Entah dengan alasan-alasan apa kamu memilih
Yang pasti kita sama-sama mencari jawaban akan rahasia-rahasia semesta yang bertebaran

Karena hakikat kita sebagai manusia adalah menjalani dan mencari dari bahasa-bahasa alam yang diberi Tuhan untuk kita agar mendapatkan kebahagian yang haqiqi.



1/11/17
Ahmad Jamaludin

Minggu, 09 Oktober 2016

Awas, Jangan Lupa !!

Jangan dulu berpuas diri disini.
Rasa nyaman selalu menidurkanmu dan lupa akan bergulirnya waktu.

Ingat impianmu dan cita-citamu. !!
Jangankan lupakan juga apa-apa yang telah kamu lalui.

Pengalaman adalah modal berharga untuk mendesain masa depan.
Siapa dan apa saja yang telah menjadi bagian dari jalan yang telah kamu lalui, merupakan bagian yang berharga untuk menunjang impian dan cita-citamu.

Tak apa, sekarang lalukan saja apa yang sedang kamu lalukan.
Namun jangan lupa impian dan cita-citamu, agar tak menyesal dikemudian hari..

#7cm

Ahmad Jamaludin

Senin, 04 Juli 2016

Berkunjung Ke Sekolah (Nan Jauh Disana)



SDN MULYA SEJATI 4 KELAS JAUH
Sebuah Perjalanan pada tahun 2013 silam tepatnya tanggal 28 September.
Mengunjungi Sebuah Sekolah Dasar yang terletak di penjuru Karawang, berada dekat perbatasan Karawang-Purwakarta dan bercengkrama dengan guru satu-satunya di Sekolah Dasar Tersebut.

Secara geografis, Sekolah ini berada di daerah perbukitan dan hutan yang masih belum ramai terjamah masyarakat luar. Karena aksesnya yang jauh, daerah ini pun belum tersentuh listrik.

Sebuah wajah Pendidikan di Kota Industri (yang konon) terbesar Se-Asia Tenggara ini, memiliki sekolah yang masih jauh dari sarana dan prasarana layaknya Lembaga Pendidikan umumnya.

Karena belum sempat menulis pada waktu itu dan ketika ingin menulisnya kembali, lupa entah harus darimana mulainya. Maka hanya dokumentasinya saja.
Dan menurut kabar Sekolah  Dasar tersebut sudah mulai membaik sekarang... Alhamdulillah


1 SD, 3 Ruang Kelas, 6 Kelas dan 1 Guru.
Sebuah Perjalanan yang mengungkap Sisi Lain Karawang..

Rute Jalan Menuju SD

Danau Jatiluhur dilihat dekat SD


Melintasi Jembatan

Jembatan Penghubung

Wajah Perbukitan Karawang



Seorang ibu tengah menimba air dan ember yang mengantre

Air dalam sumur yang sedang kering

HATI-HATI ; dalam perjalan banyak sekali persimpangan jalan. Jika salah ambil jalan, anda akan tersesat.

Ini kami saat salah jalan dan memutar balik.





KUTAJATI KARAWANG

Foto SD dari depan






Foto SD dari Belakang

Salah satu rumah warga ketika hendak pulang. Rumah yang beratapkan ateup




Ahmad Jamaludin

Sabtu, 18 Juni 2016

Impian Hidup

Google.com
Impianku adalah ingin berdiri di beberapa puncak gunung, menyelami pantai-pantai yang indah, mengunjungi situs-situs bersejarah, menikmati alamnya, berkeliling mengintari nusantara dan dunia, belajar kearifan lokal dari setiap tempat yang dikunjungi kemudian membingkai semua itu dalam dokumentasi sebagai rangkuman perjalanan hidup.


Karena saya tak ingin hidup "ala kadarnya". Saya ingin hidup sebagaimana hidup yang "hidup".

Rabu, 20 April 2016

Tergugah Oleh Film Madre


Madre (2013)
Saat tengah nonton televisi dirumah, dimalam minggu yang tak kemana-mana. Mengisi kekosongan dengan tiduran dan ganti-ganti channel televisi. Tak sengaja lihat film yang dibintangi oleh Vino G Sbastian dan Laura Basuki di Trans 7, melihat sekilas dari akting dan pilihan kata-kata di skenarionya langsung merasa bahwa film ini bagus dan sesuai dengan genre yang saya sukai.

Adalah Madre nama filmya. Wajar saja dari pilihan kata dan isi setiap kata yang menjadi kalimat, seakan film ini renyah untuk didengar dan dicerna.

Setelah nonton sampai habis, jadi penasaran siapa saja dibalik film ini. Ternyata setelah tanya ke Mang Google, Madre adalah film yang di adaptasi dari Salah satu Novel Best Sellernya Dewi Lestari atau yang lebih dikenal dengan "Dee".

Tak aneh emang karya Dewi Lestari selalu menjadi pelipur lara dan penyegar jiwa bagi saya lewat qoute juga tulisan yang ringan dan mudah dibaca.



Filosofi Kopo ; Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade
Waktu pertama "kenalan" dengan karya Dewi Lestari adalah membaca kumpulan Prosa yang bertajuk [Filosopi Kopi] yang saya pinjam diperpustakaan. Dari situ saya mulai terbawa arus riaknya tulisan-tulisan Dewi Lestari. Dan kesini-kesininya merambah ke film yang diadaptasi dari Karyanya mulai dari Perahu Kertas 1 dan 2 juga Rectoverso.

Kembali ke judul, sosok Tan Sen yang diperankan oleh Vino dalam film seakan menggambarkan diri saya. Sosok yang ingin bebas terbang, berlayar ditengah samudera untuk mencari ombak yang diinginkan tapi terlalu nyaman dengan obsesi dan lupa dengan hal-hal yang mesti dilakukan manusia pada umumnya.

Initinya, kita harus "mencari keseimbangan" antara idealis dan realistis. Sosok Tan Sen yang mengedepankan idealisnya (bahkan terlalu depan) dan menyampingkan realitas kehidupan manusia sosial pada umumnya.

Pada akhirnya, Tan Sen atau pun saya berjalan dengan hanya satu sisi (saja).
Namun pada endingnya, sosok Tan Sen berubah dan mulai menata hidup saat ada "sesuatu" yang menariknya agar hidup seimbang dan tak berjalan disatu sisi saja.
Mungkin itu yang saya cari dan tunggu untuk membantu agar hidup bisa "seimbang".

Entahlah, yang jelas selama masih ada ruang dan waktu, saya akan terus mencari dan menunggu "sesuatu" yang bisa menarik itu untuk mencapai "titik keseimbangan".




Ahmad Jamaludin

Hari berganti hari, waktu kian kencang berlari.

Entah saya yang lamban atau memang waktu yang berjalan begitu cepat.
"Diri" yang hari ini terasa keropos, terkikis entah oleh apa.
Jiwa ini pun seakan berjalan tak singkron dengan pikir dan raga.

Mencari sebab, mencari akar "kenapa" itulah yang sedang saya cari.
Mungkin inilah pase dimana manusia untuk menjadi lebih dewasa.

Dewasa disini bukan hanya sekedar soal kuantitas umur melainkan dewasa dalam kualitas berfikir, berkata dan berbuat.

Kita juga sering melihat orang Dewasa tapi seakan "masih" anak-anak. Juga anak-anak yang seakan "dewasa". Tentunya tahap mencapai dewasa ini butuh proses dan prosesnya pun pastinya berbeda setiap orang.

Mungkin juga inilah salah satu cara Tuhan untuk mengajak berbicara dengan hamba-Nya, dimana dalam "kegelisahan" ini menuntun kita untuk bertanya dan mencari jawaban kepada-Nya.
Ketika sesama manusia bahkan jiwa kita tak mampu untuk dimintai jawaban.
Dan menandakan bahwa kita tidak hidup sendiri di alam yang megah ini.



Ahmad Jamaludin

Senin, 18 April 2016

Lomba Foto Tentang Air

Pada akhir 2013 tepatnya bulan November silam. Saya coba ikutan lomba foto yang bertemakan air yang diadakan oleh Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI).

Lomba yang diumumkan via media sosial twitter ini, mengajak siapa saja yang ingin berpartisipasi untuk  bersama-sama menjaga dan merubah (sedikit demi sedikit) perubhan iklim yang tengah terjadi sekarang ini.

Memang perubahan iklim ini tak terasa dan terlihat, waktunya pun bukan waktu mingguan maupun bulanan namun tahunan bahkan ribuan tahun menurut tahun geologi. Namun lambat laun kita pun merasakan perubahan iklim tersebut, baik cuaca yang tak menentu hari-hari ini ataupun es dikutub yang kian hari kian mencair.

Terlepas dari itu, lomba foto ini bagi saya merupakan wahana untuk bertemu dan bertukar pikiran dengan para aktivis lingkungan, para pemerhati dan mereka yang menaruh perhatian lebih untuk lingkungan.

Betapa bahagianya ketika diumumkan via twitter foto yang saya kirim masuk nominasi 10 foto yang terbaik. Mungkin dari segi anggel kamera maupun teknik photograpi foto saya yahh bisa dibilang standarlah. Tapi dari segi isi cerita di foto mungkin bisa dibilang lumayan.



Foto Yang Di Lombakan

Foto saya ambil pagi-pagi ketika sedang iseng iseng turun ke Sungai Citarum yang sedang surut. Ketika turun saya lihat seorang Kakek yang sedang menjala ikan ditengah kotor dan hitamnya Sungai Citarum.






Entog (Bahasa Sunda) Sedang bermain dan minum di pinggir Citarum

Proses pembangunan jembatan dekat UNSIKA (2013)

Lanjut cerita, pengumuman pemenang di lakukan di Gd XI Epicentrum, Jakarta. Saya berangkat 3 orang, saya, Ana dan Aab. Sengaja saya ajak 2 orang ini karena saya tidak tahu jalan-jalan di Jakarta.. (Katro yah)..



Sempat nyasar nanya sana nanya sini, akhirnya nyampe juga. Gedung berdekatan dengan Kantor TV One di Jln.Rasuna Said. Ketika tiba, biasa foto-foto eksis dan lihat buku-buku bacaan yang bertemakan lingkungan hidup.



Acaranya pun beragam selain pengumuman foto, pameran buku lingkungan hidup juga nonton bareng Film Dokumenter "Setelah Hujan Datang". Dimana film ini menceritakan tentang susahnya air di Kepulauan Seribu, untuk air minum dan mandi mereka menunggu air hujan karena dengan hidup di pulau dan kelilingi air laut maka air tanahnya terasa asin air laut yang meresap dan tidak sehat untuk dijadikan air untuk mandi apalagi dikonsumsi.
Pemutarab Film Dokumenter "Setelah Hujan Datang" yang juga di lombakan di Eagle Award Film Dokumenter Metro TV


Walau tak juara, tak apa. Juara dan menang bukan itu tujuan, yang penting tambah ilmu, tambah pengalaman.




Salam Bumi



Ahmad Jamaludin

Kamis, 14 April 2016

Mengejar Waktu



Untuk soal konsistensi, tak perlu ditanya lagi. Dialah Waktu

Waktu tak pernah mau berjalan pelan atau pun berhenti sejenak. Dan Langkahnya yang detik demi detik berjalan, tahap demi tahap dilewati terus berjalan walau "terkesan" lambat. Tak jarang (malah tak pernah) manusia sadari bahwa mereka telah tertinggal jauh (sekali).

Ini sesuatu yang tak diputar kembali, tak seperti kaset, ketika ingin diulang yaah tinggal di putar. Tak pula seperti main game, jika kalah atau salah langkah..yahh tiggal diresume atau "reset".

Andai Doraemon mau meminjamkan mesin waktunya atau saya punya kekuatan untuk memutar waktu, saya ingin merubah beberapa hal yang saya anggap salah dan tersia-siakan.

Padahal Allah telah memperingatkan manusia dengan Wahyu-Nya dalam Al-Quran Surat Al-'Ashri (Demi Masa), namun yahh.. inilah daya saya selaku manusia yang punya sifat lupa dan mudah terbuai.

Tapi apa mau dikata, kemarin adalah sejarah, hari ini adalah sebab dan esok adalah akibat.

Untuk menciptakan "akibat-akibat" yang sesuai dengan keinginan. Maka, "sebabnya" itu harus ditata ulang tak lupa pula dilumuri Doa, biar Ridho dan Berkah Tuhan tumbuh.

Ayo.. !! Lari lagi, kita kejar waktu yang sempat meninggalkan.
Tak apa, kalau capek istirahat, minum lalu gogoleran dulu.


Ahmad Jamaludin



Minggu, 10 April 2016

Mencari Keseimbangan


Foto ; moeflich.wordpress.com



Mencari adalah insting alami setiap manusia.
Keseimbangan hidup juga harus dicari. Karena untuk "terbang" itu butuh kedua sayap.
Keseimbangan rohani (mungkin) saya sudah temukan.
Namun, untuk keseimbangan jasmani (duniawi) saya belum menemukan.
Apa masih proses atau mungkin belum bergerak untuk mencari ?

(Ahmad Jamaludin)

Kemanakan Mimpi ini ?


Foto : kolom.abatasa.co.id
Seperti katamu, dalam menaruh mimpi jangan simpan terlalu tinggi karena suatu saat ketika kamu ingin meraihnya, mimpi itu terlalu tinggi untuk kamu gapai.

Namun, inilah manusia yang diberi rasa, fikir, dan naluri yang berbeda- beda.
Saya punya keyakinan, bahwa mimpi itu memang harus disimpan tinggi-tinggi. Bukan melangitkan impian maupun melemparkan  impian, tapi selayaknya mimpi itu memang harus tinggi. Karena, apa yang kita rasakan dan nikmati saat ini merupakan mimpi-mimpi yang melangit dari para pendahulu kita.

Memang jika mimpi itu tinggi maka hal untuk meraihnya pun pasti tak mudah, harus adanya perjuangam untuk membuat tangga agar mampu meraih dan memetiknya.

Tugas manusia adalah berusaha menikmati proses disetiap tahapnya, untuk hasil biar Dia-lah yang menentukan.
Karena Hidup penuh dengan Rahasia-Nya.

(Ahmad Jamaludin)

Belajar Dari Air


Foto : Lesaupayau.wordpress.com
Hari - hari yang tak berubah dari kemarin - kemarin masih saja begini tanpa ada yang berubah.

Mungkin saya harus belajar dari air, dimana setiap tetesnya yang jatuh terus menerus pada sebuah batu, maka sebuah batu yang keras itu kan berlubang.

(Ahmad Jamaludin)

Sabtu, 21 Desember 2013



Sabtu siang itu, kami berkumpul dikosan prepare buat naik gunung sanggabuana yang berada di kabupaten karawang. Rencana pendakian ini sudah direncanakan dan dipersiapkan jauh-jauh hari sebagai suatu refreshing ketika sudah selesai mengadakan acara yang lumayan membuat mumet.
Letak Gunung Sanggabuana sendiri menjadi perbatasan dan bagian dari beberapa kabupaten antara lain kabupaten Bogor, Purwakarta, Cianjur dan Karawang. Jika dilihat dari arah karawang, gunung sanggabuana tidak terlihat karena diapit dan terhalang oleh beberapa bukit dan juga gunung.

Untuk arah masuk dari karawang bisa melalui tempat wisata curug cigeuntis. Namun, awal mula jalur untuk pendakian itu letaknya sebelum ke curug cigeuntis dan jalurnya pun terbilang sempit cukup untuk motor. Dan biasanya para pendaki yang akan mendaki gunung sanggabuana memulai pendakiannya dari perumahan warga yang dijadikan tempat penitipan motor karena rata-rata para pendaki untuk menuju loji sendiri kebanyakan membawa kendaraan roda dua.


Pendakian

Pendakian kami dimulai pukul sekitar setengah 5 sore karena kami sendiri berangkat dari karawang pukul 3 sorean. Kami berangkat 8 orang dan menggunakan 4 motor. Dengan semangat dan rasa penasaran tinggi kami memulai berjalan kaki dari penitipan motor di perumahan warga yang merupakan pos terakhir untuk sepeda motor karena kesananya dilanjutkan dengan berjalan kaki. Ini merupakan pendakian pertama kami, Sawah-sawah yang berhamparan dan suguhan pemandangan bukit-bukit yang terbentang menemani setiap langkah kaki yang kami lalui juga gemercik aliran sungai yang begitu jernih yang jarang kami lihat diperkotaan. 

Istirahat Sejenak
Subhanallah… itulah yang kami ucap ketika melihat lukisan-lukisan alam yang begitu indah dan luas yang menyadarkan kita sebagai manusia hanya bagian kecil dari alam yang begitu luas bahkan pikiran kita pun tidak mampu menterjemahkan apa-apa saja yang ada di setiap sudut alam jagad ini.
Tidak cuma sampai itu, sekitar 1-2 KM jalur awal pendakian yang kami lalui merupakan sebuah desa dimana para penduduk desa yang mayoritas menggantungkan hidupnya bertani dan berkebun melakukan aktivitasnya masih secara tradisional. Hal contoh, seorang petani yang sedang membajak menggunakan sapi sawah sambil bernyanyi lagu-lagu sunda dimana katanya lagu-lagu itu biasanya dinyanyikan sebagai penyemangat saat membajak dan doa harapan agar sawah yang sedang digarap dapat menghasilkan panen yang melimpah.
Langkah demi langkah kami tapaki dan tak terasa keringat mengucur deras sehingga membasahi pakaian yang dikenakan. Jalan yang menanjak cukup merepotkan dan membuat lelah di awal-awal kami, tak khayal setiap 200-400 M kami istirahat karena beberapa anggota sudah sangat capek.
Langit sore hari mewarnai perjalanan kami dengan layung senjanya. Warna langit pun terlihat terang kekuningan seakan menerangi langkah kami dari malam yang akan tiba dan menggelapkan jalur-jalur yang akan kami lalui.

Selanjutnya, di sebuah gubuk yang kami temui saat diperjalan menjadi tempat istirahat untuk mempersiapkan peralatan dimalam hari seperti senter dan lainya, karena langit dan jalur-jalur yang kami lalui mulai gelap menjelang malam. 
Kemudian perjalan kami lanjutkan, tak jauh dari tempat istirahat yang tadi kami melihat sebuah rumah warga dengan obor kecil karena listrik belum ada disini. Gonggongan anjing menyambut kami di kejauhan, tak khayal membuat beberapa anggota panik karena takut anjing. Dengan sedikit dorongan dan ketakutan dari beberapa anggota kami memberanikan diri melewati anjing yang ada dirumah warga tersebut.
Setelah beberapa meter melewati rumah warga, tiba-tiba datang seekor kucing yang berasal dari arah rumah warga mengikuti dan menemani selama dalam perjalan. Ketika kami istirahat di tengah perjalanan, kucing itu pun ikut berhenti dan bermain-main disekitar kami.

Pos Pertama, Sebuah Petilasan

Sekitar pukul 7 malam, kami melewati sebuah petilasan yang dimana petilasan tersebut terdapat rumah juga warung,  dan kami pun memutuskan untuk istirahat dan mengisi ulang persediaan logistik yang hampir habis.
Kopi dan susu jahe menemani istirahat kami di warung ini, karena perjalan yang cukup melelahkan dan udara yang mulai cukup dingin ditambah persediaan rokok yang masih ada. Saat kami baru tiba pun sudah banyak orang yang datang berziarah atau pun hanya sekedar lewat menuju puncak sanggabuana. Pada malam hari pun, ada beberapa kelompok yang lewat untuk mendaki  pada malam hari. 



Bersambung...

Sabtu, 29 Juni 2013

Air Mengalir Sampai Jauh



Air mengalir sampai jauh,
Akhirnya ke laut…
Lirik lagu Bengawan Solo karya Gesang tersebut sepertinya tepat untuk menggambarkan siklus air sekarang ini. Beberapa tahun terakhir banyak air larian, yang mengalir begitu saja sampai jauh, sampai laut. Lalu mereka menguap lagi (dengan cepat) menjadi awan, lalu hujan. Lalu mengalir lagi sampai jauh.

Air yang mencapai dua per tiga bagian permukaan bumi jumlahnya tidak pernah berubah, hanya bentuknya berubah dalam siklus hidrologi yang terus-menerus, yakni air di daratan-air laut-uap air-air hujan).  Tetapi perlu diperhatikan dari seluruh air yang terdapat di muka bumi, 97,5% diantaranya merupakan air asin yang terdapat di laut. Dan hanya 2,5% saja yang berupa air tawar.

Dari jumlah 2,5 persen air tawar (freshwater) yang dimiliki bumi pun hanya sebanyak 0,4 persen yang terdapat di permukaan tanah (surface) dan atmosfir (atmospheric water). 0,4 persen air tawar inilah yang sering diperebutkan dan dikonsumsi oleh milyaran penduduk bumi. Selebihnya berupa glasier (gletser; bongkahan es) yakni sebesar 68,7%, ada pula yang tersimpan di dalam tanah dalam bentuk airtanah (groundwater) sebesar 30,1 % dan sebanyak 0,8% tersimpan dalam bentuk tanah beku (permafrost).
Laju pertambahan penduduk yang semakin cepat tentu berpengaruh pula pada meningkatnya kebutuhan akan air bersih. Padahal ketersediaan air di muka bumi ini sangat terbatas menurut ruang dan waktu, baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Penggunaan air tanah merupakan salah satu alternatif yang dilakukan manusia guna memenuhi kebutuhan akan air, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun kebutuhan industri. Masalah yang kemudian muncul adalah penyedotan air tanah secara besar-besaran dapat mempengaruhi kualitas lingkungan, dalam hal ini air dan permukaan tanah.

Percepatan laju pembangunan yang tidak memperhatikan kondisi lingkungan berakibat semakin besarnya air larian yang akhirnya mempengaruhi  jumlah air tanah. Berkurangnya tanah sebagai daerah resapan air serta pohon-pohon yang menahan air mendukung semakin besarnya volume air larian. Air tersebut menggenang di permukaan dalam jumlah yang berlebihan, yang kita sebut banjir.

Kecilnya komposisi air tawar yang bisa kita konsumsi, serta daya renewable(perbaharuan) air yang sangat lama (Kecepatan renewable air adalah sepuluh pangkat minus dua cm per detik. Dengan kecepatan itu dibutuhkan waktu hingga beberapa generasi bagi air untuk memperbaharui dirinya), maka sudah saatnya kita menjadi bijak dalam menggunakan air. Langkah-langkah seperti membuat sumur resapan atau menabung air hujan dapat dijadikan alternative dalam menjaga ketersediaan air bersih demi kehidupan kita dan generasi penerus kita kelak.

Selamat Hari Air.